“Pilah Sampahmu Dan Pilah Sembakomu”: Inovasi Kelurahan Tangki, Ubah Sampah Jadi Kebutuhan Pokok

Daerah13 Dilihat


Reformasiaktual.com//Jakarta — Kelurahan Tangki, Kecamatan Taman Sari Jakarta Barat, menghadirkan inovasi pengelolaan sampah melalui program “Pilah Sampahmu, Pilih Sembakomu”.

Program berbasis lingkungan dan ekonomi sirkular tersebut mendorong masyarakat memilah sampah dari rumah untuk kemudian ditukarkan dengan kebutuhan pokok atau sembako, Senin 31/08/2026.

Program ini menjadi salah satu upaya Lurah Tangki Iqbal Rahmat Thahir Siregar, S.STP., mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah, dari sekadar barang yang “dibuang dan dilupakan” menjadi sesuatu yang dipilah dan dimanfaatkan.

Acara tersebut dihadiri oleh Kasi Ekbang Umi Barkah, Kasi Kesra Bpk.Feri, RW.01 Bpk.Eky Widjaja, RW.04 Bpk.Siswo Pranoto, LMK RW. 02 Ibu Dukini, LMK RW.06 Hendrik, Kepsek PAUD Melati Ibu Lidya, Kepsek SD Cahaya Mulya Ibu Umi Machali, Guru MI At-Taqwa Bpk.Sofyan, Koordinator Dasawisma RW. 01-RW07, Dan PKK Kelurahan Tangki.

Kelurahan Tangki memiliki luas wilayah sekitar 37,4 hektare, terdiri dari 7 RW dan 81 RT, dengan jumlah penduduk 14.842 jiwa, Ucap Iqbal.

Berdasarkan materi program, rata-rata sampah yang dihasilkan di wilayah Kelurahan Tangki mencapai sekitar 10 ton per hari.

Sampah Ditukar Menjadi Sembako
Berbeda dengan mekanisme bank sampah pada umumnya yang memberikan hasil penukaran berupa uang atau tabungan, program di Kelurahan Tangki memungkinkan masyarakat memperoleh sembako secara langsung dari sampah yang telah dipilah dan ditimbang.

Jenis sampah yang diterima antara lain sampah plastik seperti botol dan gelas plastik, ember serta pipa PVC, kantong plastik dan jeriken. Selain itu, masyarakat juga dapat menyetorkan sampah kertas dan kardus, sampah logam dan kaca, serta minyak jelantah.

Sementara itu, sembako yang dapat diperoleh melalui program tersebut antara lain beras, minyak goreng, gula pasir, mi instan, tepung terigu, kecap, bumbu dapur, kopi sachet, susu, sabun, sampo, pasta gigi, air mineral, makanan ringan dan tisu.

Dalam materi presentasi disebutkan, program tersebut telah dilaksanakan sejak 2024.

Program sempat tidak aktif selama sekitar empat bulan setelah terjadi musibah kebakaran pada September 2025, sebelum kembali aktif pada Januari 2026.

Program ini dijalankan melalui bank sampah yang berada di lingkungan Kelurahan Tangki.

Saat ini terdapat delapan bank sampah, yakni bank sampah di RW 001 hingga RW 007 serta Bank Sampah Kelurahan Tangki.

Mekanismenya sederhana, warga memilah sampah dari rumah, kemudian menyetorkannya ke titik program, selanjutnya sampah ditimbang dan dicatat sebelum hasilnya ditukarkan dengan sembako.

Data rekapitulasi program menunjukkan bahwa sepanjang Januari – Juli 2026 tercatat 87 nasabah yang mengikuti program dengan total sampah yang ditimbang mencapai 1.042 kilogram dan nilai penukaran sembako sebesar Rp.2.331.440.

Jumlah nasabah tertinggi tercatat pada Juli 2026 sebanyak 20 nasabah, dengan sampah yang ditimbang mencapai 179,5 kilogram dan nilai penukaran sebesar Rp.568.000.

Program tersebut beroperasi Senin hingga Jumat, pukul 08.30–14.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00–13.00 WIB.

Sampah Organik juga dimanfaatkan
Tidak hanya sampah anorganik, Kelurahan Tangki juga mengembangkan pengelolaan sampah organik.

Materi program mencatat pemanfaatan sampah organik melalui 22 lubang biopori, sistem TEBA (Tong Efektif Bakteri) di RW 001 dan RW 004, pakan hewan serta pengolahan menjadi ecoenzym.

Rekapitulasi empat minggu menunjukkan sampah organik yang dikelola melalui 22 lubang biopori mencapai 1.100 kilogram, TEBA RW 001 sebanyak 260 kilogram, TEBA RW 004 sebanyak 275 kilogram, pakan hewan 46 kilogram, dan ecoenzym 18 kilogram.

Sementara untuk sampah anorganik, rekap Januari-Juli 2026 mencatat total 9.002,30 kilogram, sedangkan minyak jelantah mencapai 114,50 liter.

Sistem pengelolaan sampah terpadu di Kelurahan Tangki dilaksanakan melalui skema kemitraan.

Penjualan sampah anorganik dilakukan melalui koordinasi dengan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat/Bank Sampah Induk.

Sedangkan minyak jelantah dikelola melalui kerja sama dengan Rumah Sosial Kutub dan TP-PKK Kelurahan Tangki untuk kemudian disalurkan pada kegiatan sosial dan keagamaan.

Selain itu, program juga mendorong berbagai bentuk pemanfaatan sampah, seperti pembuatan eco brick, kerajinan dari bahan daur ulang, pemanfaatan sampah organik menjadi pakan ternak, lubang biopori, pengolahan organik melalui sistem TEBA, pembuatan eco-enzyme, hingga pemanfaatan sampah plastik kresek sebagai bahan baku pembuatan meja belajar dan rak.

Program ini bertujuan mengurangi volume sampah rumah tangga, mencegah pencemaran tanah dan air, serta menciptakan lingkungan permukiman yang lebih sehat, rapi dan nyaman.

Melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya diajak menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dengan mengubah sampah yang memiliki nilai menjadi kebutuhan sehari-hari.

Dari sampah menjadi berkah, untuk Jakarta yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.

Reporter :Erwin yulianto