MBAH KARMOENA KIAI KAMPUNG PERINTIS LANGGAR TUA KALIKAJAR WETAN PAITON

Daerah323 Dilihat

Reformasiaktual.com//.Jum’at 10/11/2023- Pada masa kependudukan Belanda, Mbah Karmoena membabat lahan di Desa Kalikajar Wetan di daerah utara. Ia pun memiliki jasa menjadi guru ngaji (Al Qur’an) pertama di desa ini.

Saifullah, seorang penulis buku sejarah dan tokoh atau biografi, telah melakukan penelusurannya melalui wawancara kepada Kyai Suroso semasa hidup nya beliau mengungkapkan, langgar tua sebagai tempat mengaji dan sholat yang ia bangun merupakan hasil usaha pribadi dari bekerja sebagai tukang bangunan.

“Mbah Karmoena membangun langgar tua, musholla pertama di Kalikajar Wetan, Kyai Suroso (alm.), memberikan kesaksiannya. Kyai Suroso sendiri merupakan santri pertama Mbah Karmoena,” ujar Saifullah, Ketua GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca) Kabupaten Probolinggo periode 2021-2025.

Langgar tua, kisah Kyai Suroso, didirikan pada tahun 1925. Pada masa itu, langgar tua lebih dikenal, “Langgar Kyai Karmoena.” Semua santri yang mengajinya bermalam di balai rumah Mbah Karmoena. Selain mengaji Al-Qur’an setelah sholat magrib juga dilaksanakan sehabis sholat subuh berjamaah.

Dengan penuh keterbatasan, dalam kesederhanaannya, Mbah Karmoena, sampai lanjut usia, ia masih aktif mengajar Al Qur’an di langgar tua.

Santri pertama Mbah Karmoena, Marsain P. Supiyo (putra Mbah Karmoena), Adnawi (Kyai Suroso), Sirukdin, Pak Tri, Pak Hari dan Sulik Mistar.

Setelah Mbah Karmoena meninggal, penerus kegiatan mengajarkan Al Qur’an adalah putranya sendiri, Kyai Marsain atau sebagian warga memanggil dengan julukan Kyai Supiyo Marsain. Dan pada masa Kyai Marsain, langgar tua mulai dibangun dengan menggunakan gedung tembok seperti sekarang.

Selain langgar, pada masa Kyai Supiyo Marsain mulai berkembang dengan merintis lembaga pendidikan agama (Islam), Madrasah Diniyah (Madin Nurul Hasyimi 1), di RT 02 RW 01, Dusun Krajan, Desa Kalikajar Wetan, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Sampai sekarang, langgar tua rintisan Mbah Karmoena diteruskan oleh dua cucu Mbah Karmoena sendiri, Ummi Kulsum dan Norhasanah. Demikian pula Madrasah Diniyah, sampai sekarang terus berkembang terutama dalam kegiatannya yang berkaitan dengan bidang keagamaan seperti ilmu fiqih dan tauhid. (Juprianto/team).