OKU Timur — Warga Desa Keromongan, Dusun V Datuk RT/RW 001/005, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur, mengeluhkan adanya proyek galian drainase yang diduga ditinggalkan sebelum selesai. Proyek tersebut kini terbengkalai dan memicu banjir hingga setinggi 50 cm setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Kepala Desa Keromongan, Marwan, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihak kontraktor pelaksana tidak pernah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa sejak awal pekerjaan dimulai.
“Pihak pelaksana kontraktor sampai saat ini tidak pernah berkoordinasi dengan aparat desa setempat, apalagi melibatkan pekerja harian dari masyarakat sekitar,” ujar Marwan.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi proyek saat ini sangat memprihatinkan. Galian drainase belum mencapai ujung, namun para pekerja sudah tidak terlihat lagi di lokasi.
“Proyek ini sekarang terbengkalai. Kalau hujan, terjadi banjir karena galian drainase belum selesai. Hari ini tidak ada satu pun pekerja di lokasi,” tegasnya.
Selain itu, Marwan menyebutkan bahwa tidak ada papan informasi proyek yang terpasang, sehingga masyarakat maupun pemerintah desa tidak mengetahui sumber ataupun pelaksana proyek tersebut.
“Papan proyek yang diwajibkan dipasang tidak ada di lokasi. Kami tidak tahu ini proyek dari mana, apalagi sekarang ditinggalkan begitu saja,” tambahnya.
Marwan juga menyoroti kurangnya rambu-rambu dan atribut keselamatan kerja (K3) saat para pekerja masih berada di lokasi.
Sementara itu, salah satu warga setempat, Ricky Yuba, mengaku sangat terganggu dengan kondisi galian yang ditinggalkan tersebut. Ia menjelaskan bahwa saat hujan turun, air dari galian meluap ke jalan hingga menimbulkan banjir setinggi 50 cm.
“Kalau hujan, air dari proyek drainase ini banjir ke jalan setinggi 50 cm. Entah proyek ini punya siapa, papan proyeknya tidak ada, jadi kami masyarakat tidak tahu. Sekarang proyek ini diduga ditinggalkan padahal belum selesai. Kalau hujan, susah kami, Pak,” keluhnya.
Saat dikonfirmasi terpisah oleh media, Camat Martapura Herlius, mengaku tidak mengetahui asal-usul proyek tersebut.
“Dak tau jugo proyek ini dari mano, siapo yang gawekannyo. Dak katik yang laporan,” ungkapnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang memberikan klarifikasi terkait siapa pemilik, pelaksana, maupun penanggung jawab proyek tersebut. Masyarakat pun mempertanyakan transparansi dan menilai kegiatan ini sebagai “proyek siluman” karena tidak adanya identitas proyek dan pengerjaan yang terkesan asal-asalan.Rilis K







