Probolinggo//Reformasiaktual.com – setelah muncul perbedaan informasi biaya serta kebijakan pelepasan infus yang dinilai memberatkan dan mengabaikan sisi kemanusiaan.
Keluhan itu disampaikan Suprapti, anak dari Sistiati (85), warga Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan, kabupaten setempat.
Berdasarkan keterangan keluarga, Sistiati sebelumnya dirawat di RS Graha Sehat sejak Jum’at (19/12/2025) menggunakan layanan BPJS dan diperbolehkan pulang pada Selasa (23/12/2025), atas permintaan keluarga untuk menjalani perawatan di rumah.
Suprapti mengungkapkan, keputusan pulang tersebut diambil karena kondisi ibunya dinilai tidak menunjukkan perkembangan signifikan selama lima hari dirawat di rumah sakit. Saat mengajukan izin pulang, Suprapti meminta agar infus tidak dilepas karena pemasangannya cukup sulit dan membutuhkan perjuangan. Ia juga menyampaikan bahwa keponakannya berprofesi sebagai perawat dan bersedia membantu perawatan di rumah.
Mendengar hal tersebut, pihak RS Graha Sehat menawarkan penggunaan jasa home care. Suprapti pun tertarik karena menganggap perawatan akan lebih mudah mengingat pihak rumah sakit telah mengetahui riwayat kesehatan ibunya.
Namun, setibanya di rumah, persoalan biaya mulai muncul. Suprapti menanyakan biaya kepada Miftah, petugas home care, dan dijawab hanya diminta memberikan uang transport sebesar Rp25 ribu kepada Dimas, salah satu petugas home care.
Pada sore harinya, masih Selasa (23/12/2025), Rini, petugas home care lainnya, menyampaikan bahwa biaya perawatan sebesar Rp135 ribu per sore.
“Ibu Rini itu bilang, ‘untuk pembayaran, ibu bayarnya setiap sore saja, senilai Rp.135 ribu,'” jelas Suprapti.
Pada Rabu (24/12/2025), keluarga kembali mengeluhkan infus yang macet. Karena Rini tidak bisa datang, Dimas dipanggil untuk menangani pasien tersebut. Saat ditanya soal biaya, Dimas mengaku terkejut mengetahui Rini dibayar Rp135 ribu, sehingga ia beranggapan biaya yang sama juga berlaku untuk dirinya. Setelah merinci obat-obatan, total biaya yang harus dibayarkan mencapai Rp573 ribu.
Pada Kamis (25/12/2025), keluarga kembali diminta membayar Rp500 ribu. Dimas menyebut nominal tersebut sebenarnya masih kurang dari biaya seharusnya, namun ia mengatakan cukup Rp500 ribu saja.
“Dimas juga sempat menyampaikan bahwa harga obat-obatan di Graha Sehat memang lebih mahal, bahkan bisa mencapai tiga kali lipat dari harga di luar. Obat yang seharga Rp20 ribu bisa menjadi Rp80 ribu,” kata Suprapti.
Merasa keberatan dengan biaya yang mencapai sekitar Rp500 ribu per hari, pada Jum’at (26/12/2025) keluarga memutuskan untuk berhenti menggunakan jasa home care. Meski demikian, Suprapti kembali memohon agar infus tidak dilepas, dengan alasan pemasangan infus pada ibunya sangat sulit, bahkan sampai lebih dari tiga kali tusukan hingga berdarah.
Permohonan tersebut ditolak pihak home care. Suprapti mengatakan, Miftah menyampaikan bahwa infus harus dilepas jika keluarga tidak lagi menggunakan jasa home care. “Tidak bisa Bu, kalau sudah tidak pakai jasa kami, otomatis infus harus dilepas,” ujar Suprapti menirukan pernyataan petugas.
Meski sudah berulang kali memohon atas dasar kemanusiaan, pihak home care tetap bersikukuh dengan alasan aturan. Akhirnya, Suprapti meminta agar infus segera dilepas. Namun, pihak home care masih meminta biaya tambahan sebesar Rp75 ribu untuk pelepasan infus tersebut.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Keperawatan sekaligus Koordinator Jasa Pelayanan Home Care RS Graha Sehat, Madani, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki kebijakan tersendiri terkait pembiayaan.
“Untuk masalah biaya, pastinya kami sudah jelaskan di awal pada keluarga pasien, itu sudah pasti. Untuk pembiayaan itu memang ada kebijakan dari kami,” ujarnya
Terkait kebijakan pelepasan infus, Madani membenarkan hal tersebut merupakan aturan yang berlaku. “Memang iya, aturannya seperti itu. Saat pasien memutuskan untuk tidak memakai jasa kami, maka harus kami lepas, khawatir ada hal yang tidak diinginkan terka
ibrohim







