OKU Timur-Spanduk dan papan ucapan selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Kabupaten OKU Timur berjejer di pinggir jalan. Linimasa media sosial pun dipenuhi pesan optimisme dan harapan.
Namun, di tengah euforia perayaan tersebut, muncul suara yang mengajak semua pihak berhenti sejenak untuk berkaca.
Tokoh pemuda OKU Timur, Kukuh, menilai peringatan hari jadi kabupaten tidak boleh terjebak dalam seremoni dan kemeriahan simbolik semata.
Menurutnya, usia 22 tahun seharusnya menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten OKU Timur untuk melakukan evaluasi jujur atas kinerja dan janji-janji yang pernah disampaikan kepada publik.
“Pertanyaannya sederhana tapi mendasar, apakah pemerintah benar-benar sudah melayani rakyat, atau justru sibuk merayakan keberhasilan di atas panggung?,” ujar Kukuh pada Senin (19/1/2026).
Ia juga menegaskan, ulang tahun daerah bukan hanya tentang mengenang momentum pemekaran, melainkan saat yang tepat untuk menimbang hasil kerja seluruh pemangku kebijakan.
Kukuh menyoroti masih adanya jarak antara program yang dirancang pemerintah dengan realitas yang dirasakan masyarakat di lapangan hingga hal lain.
“Kami hanya mengingatkan, kondisi ril di masyarakat sering kali tidak seindah narasi program. Di sinilah evaluasi menjadi penting, agar pemerintah tidak terjebak pada laporan, tetapi hadir pada kenyataan,” tegasnya.
Menurut Kukuh, evaluasi diperlukan untuk mengukur sejauh mana capaian pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Sementara koreksi mutlak dilakukan karena tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seremonial.
Ia juga mengingatkan pentingnya introspeksi bagi para pemimpin daerah. Kukuh menyebut, kekuasaan kerap membuat pejabat merasa sudah cukup mendengar, padahal suara masyarakat di akar rumput belum sepenuhnya terserap.
“Sebagai manusia, pemimpin tidak luput dari lupa, salah, dan khilaf. Karena itu, jangan menutup mata, telinga, dan hati terhadap kritik. Pemerintah yang baik adalah yang mau dikoreksi,” ujarnya.
Meski kritik disampaikan secara tegas, Kukuh tetap menyampaikan harapan bagi Kabupaten OKU Timur di usia ke-22 tahun.
Ia mendoakan agar daerah ini terus tumbuh menjadi wilayah yang maju, makmur, dan masyarakatnya tetap rukun serta menjunjung tinggi semangat gotong royong.
Namun, Kukuh menekankan, doa dan harapan tidak cukup jika tidak dibarengi keberanian untuk berbenah.
“Euforia perayaan HUT seharusnya menjadi refleksi mendalam atas berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat. Jika tidak, perayaan hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa makna,” pungkasnya.
Sementara salah seorang Warga Martapura juga menyampaikan, dibalik meriahnya HUT kabupaten OKU Timur yang sudah memasuki masa remaja ke – 22 tahun, namun masih ada saja persoalan-persoalan yang tampak kasat mata.
Contohnya, tampak gedung kantor DPRD OKU Timur yang seharusnya tempat dimana puncak perayaan HUT OKU Timur setiap tahun di rayakan yang di hadiri dari berbagai kalangan, masih perlu di perhatikan, terlihat masih ada atap maupun cet gedung kantor mengelupas di sana sini, bahkan ada kolam seperti tak terawat , tempat sarang nyamuk, semua perlu di benahi, jelas di mata publik di enak dipandang mata, ungkap warga yang tak ingin disebut namanya senin 19/01/2026.
“Warga juga menyebut, disisi lain untuk menyambut perayaan HUT OKU Timur tentu mengeluarkan anggaran dana yang tentu pantastis, kegiatan demi kegiatan di adakan, itu semua menelan anggaran , baik dari pengadaan baju hingga makan minum dan kegiatan lainnya, seperti di adakannya pesta rakyat, tabliq akbar bahkan akan diadakanya balap motor semua kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT OKU Timur ke-22 tahun 2026.
Namun semua itu sangat di sayangkan, jika fasilitas gedung kantor DPRD OKU Timur terabaikan, tukasnya.(Rilis)








