Ketua komisi II Hamzah Gurnita soroti kejadian keracunan makanan MBG di Simpenan

Politik57 Dilihat

Reformasiaktual.co//Kabupaten Sukabumi- Dugaan keracunan massal yang terjadi setelah konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, kini menjadi sorotan serius wakil rakyat. Insiden tersebut dinilai mencerminkan kegagalan pengawasan dalam pelaksanaan program strategis nasional di tingkat daerah.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sukabumi, Hamzah Gurnita, menilai peristiwa ini sebagai peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan agar tidak abai terhadap standar keamanan pangan, terutama ketika menyangkut konsumsi anak anak sekolah dan tenaga pendidik.

Menurut Hamzah, program MBG sejatinya dirancang untuk memperbaiki kualitas gizi dan masa depan generasi muda. Namun ketika pelaksanaannya justru berujung pada gangguan kesehatan, maka hal tersebut tidak bisa ditoleransi.

“Ini bukan sekadar insiden. Ketika makanan yang disajikan kepada anak-anak berpotensi membahayakan kesehatan, maka ada kesalahan serius yang harus diusut. Legalitas dan kelayakan dapur penyedia harus diperiksa secara menyeluruh,” ujar Hamzah rabu 28/1/2026.

Data sementara mencatat empat orang harus mendapatkan penanganan medis, terdiri dari dua siswa dan dua guru, dengan gejala yang muncul hampir bersamaan usai menyantap menu MBG.

Hamzah menegaskan, tanggung jawab penyedia tidak cukup hanya dengan menanggung biaya pengobatan. Ia menilai, langkah tersebut harus dibarengi dengan evaluasi total terhadap sistem pengadaan, pengolahan, hingga distribusi makanan.

“Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Jika dapur atau yayasan tidak memenuhi standar, hentikan dulu operasionalnya. Jangan ada kompromi ketika menyangkut keselamatan publik,” tegasnya.

Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersama instansi teknis terkait untuk segera mengambil langkah tegas dan terukur, termasuk menyiapkan skema pengawasan yang lebih ketat agar kejadian serupa tidak terulang.

Di sisi lain, Kepala SPPG Loji, Anwar Sapei, menyatakan pihaknya telah melakukan langkah awal dengan menyerahkan sampel makanan kepada Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ia juga menyampaikan komitmen untuk bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

“Kami menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi serius. Sampel makanan sudah diserahkan untuk diuji, dan seluruh biaya pemeriksaan serta perawatan korban menjadi tanggung jawab kami,” ungkap Anwar.

Asep