Reformasiaktual.com//GARUT — Semangat meningkatkan kemampuan literasi dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia terus ditumbuhkan di kalangan generasi muda. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Menulis Artikel bertema “Merawat Bahasa Melalui Karya” yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Mumtaz Peduli di Aula Yayasan Miftahussaadah, Kp.Astana Girang, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi yang memperoleh fasilitasi dari Balai Bahasa, dengan tujuan mendorong tumbuhnya budaya membaca dan menulis sekaligus meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia di kalangan pelajar.
Sebanyak 70 peserta dari jenjang SMP, SMA, dan PKBM mengikuti kegiatan dengan antusias. Pelatihan dirancang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai teori menulis, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan secara langsung proses mengembangkan gagasan menjadi sebuah artikel.
Hadir sebagai narasumber, Iwan Kurniawan, S.Pd. dan Jihad Abdul Majid. Keduanya memberikan materi secara bertahap, mulai dari memahami karakteristik artikel, menentukan topik dan judul, menyusun kerangka tulisan, memilih kata yang tepat, memperhatikan kaidah kebahasaan, hingga melakukan penyuntingan agar tulisan menjadi lebih efektif, komunikatif, dan mudah dipahami.
Dalam pemaparannya, Iwan Kurniawan, S.Pd. menegaskan bahwa bahasa memiliki kedudukan penting dalam membangun identitas dan kebudayaan bangsa. Menurutnya, upaya merawat bahasa tidak cukup hanya dilakukan melalui pemahaman teori, tetapi perlu diwujudkan dalam karya nyata.
“Merawat bahasa bukan hanya tugas sebagian orang, melainkan tanggung jawab kita semua. Salah satu cara paling nyata adalah melalui karya tulis. Ketika kita menulis dengan bahasa yang baik dan benar, kita sedang ikut menjaga warisan bahasa sekaligus memperkaya khazanah bahasa Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Jihad Abdul Majid mendorong para peserta untuk berani menuangkan gagasan melalui tulisan sejak usia muda. Ia menekankan bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat yang muncul secara instan, melainkan keterampilan yang dapat berkembang melalui latihan dan kebiasaan.
“Jangan takut untuk mulai menulis. Setiap tulisan adalah proses belajar. Ketika tulisan disusun dengan bahasa yang jelas, taat kaidah, dan memberikan manfaat bagi pembaca, maka tulisan tersebut telah menjadi bagian dari upaya merawat bahasa,” katanya
Dalam sesi praktik, peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan tulisan. Mereka diajak menggali gagasan dari lingkungan sekitar, menentukan sudut pandang, menyusun judul dan kerangka artikel, kemudian mengembangkan kerangka tersebut menjadi tulisan yang utuh.
Proses tersebut sekaligus menjadi ruang bagi peserta untuk memahami bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan mengolah informasi, menyampaikan gagasan, serta menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penyelenggara berharap kegiatan ini dapat menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan dalam membangun budaya literasi di lingkungan masyarakat, khususnya melalui peran Rumah Baca Mumtaz Peduli sebagai ruang belajar dan berkarya bagi generasi muda.
Melalui dukungan fasilitasi Balai Bahasa, kegiatan literasi seperti ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan pelatihan, tetapi dapat melahirkan ekosistem membaca dan menulis yang terus tumbuh. Para peserta diharapkan mampu membawa pengalaman yang diperoleh dalam pelatihan ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Dengan demikian, setiap tulisan yang lahir dari tangan generasi muda bukan hanya menjadi sebuah karya, tetapi juga menjadi bentuk nyata kecintaan terhadap bahasa Indonesia.
Pian













