TAKALAR |,– Kasat Intelkam Polres Takalar AKP Andi Abdullah Aidid Paparkan fungsi dan tugas Intelejen di era Digitalisasi saat ini untuk bisa menyaring dan mencermati berita berita hoax di sosial media (Sosmed) yang begitu cepat saat ini.Kamis 27/08/2026
Pelaksanaan pembelajaran Generasi Digital Cerdas Bersama polres Talalar bertempat di SMA Negeri 7 Takalar, Desa Pattopakang Kecamatan Laikang Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan
Kegiatan dimulai pukul 08.30 Wita dan diikuti sekitar 60 siswa SMA Negeri 7 Takalar. di bagi dua sesi, Program tersebut merupakan tindak lanjut Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026, Kegiatan 9, dengan tujuan membekali pelajar agar mampu memahami perkembangan AI sekaligus menggunakannya secara positif, bijak, dan bertanggung jawab.
Tim Trainer Polres Takalar terdiri atas Kabag SDM Polres Takalar AKP H. Totok Rohyadi, Kasat Intelkam Polres Takalar AKP Andi Abdullah Aidid, S.H., M.M., Kanit PPA Ipda Muhammad Syaiful Majid, S.H., M.H., PS. Kasubsi PIDM Humas Polres Takalar Aipda Rahmat Ardiansyah, personel Bag SDM, Kanit Intelkam.Polsek Mangaranombang
Aiptu Syamsul Alam ,serta personel Sat Binmas. Kegiatan turut dihadiri PS. Kanit Sosbud Aiptu Hasriadi, S.H., bersama para siswa peserta.
Tak henti disampaikan bahwa,” cara mengenali dan memanfaatkan AI. Para siswa juga diajak memahami sisi lain dunia digital: keamanan siber. Mereka diperkenalkan dengan berbagai modus kejahatan yang kerap menyasar pengguna internet, mulai dari phishing, penipuan daring, pencurian akun, aplikasi APK berbahaya, judi online, penyebaran hoaks, hingga penipuan berkedok game dan giveaway.Sebut Kasat Intelkam Polres Takalar
“Siswa diingatkan bahwa kelengahan sekecil apa pun di ruang digital dapat dimanfaatkan pelaku untuk mencuri data pribadi, kode OTP, kata sandi, akses akun, bahkan uang. Dampaknya tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga dapat berujung pada pencurian identitas, terganggunya aktivitas belajar, hingga tekanan psikologis.Papar AKP Andi Abdullah
Olehnya itu, Tim Trainer membekali peserta dengan langkah-langkah sederhana namun penting: tidak sembarangan membuka tautan, menjaga kerahasiaan OTP, PIN, dan kata sandi, menggunakan kata sandi yang kuat serta autentikasi dua faktor (2FA), mengunduh aplikasi dari sumber resmi, dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai sebuah informasi, Sebutnya
Lebih lanjut Kasat Intelkam AKP Andi Abdullah ,”Jika menjadi korban atau menemukan indikasi kejahatan siber, siswa juga diarahkan untuk tidak panik. Bukti perlu disimpan, akun atau pihak mencurigakan dapat diblokir, kemudian persoalan segera disampaikan kepada orang tua, guru, maupun pihak yang Tegasnya
Kabag SDM Polres Takalar AKP H. Totok Rohyadi saat dikonfirmasi disela-sela kegiatan mengatakan, perkembangan AI harus diikuti dengan peningkatan literasi digital. Menurutnya, pelajar perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya sebagai sarana belajar, menggali kreativitas, dan menghasilkan sesuatu yang positif.
“Kami ingin para pelajar memahami bahwa AI adalah alat yang bisa memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Teknologi ini seharusnya membantu proses belajar dan kreativitas, bukan justru membuat pelajar kehilangan sikap kritis dan tanggung jawab,” Ujar AKP H. Totok Rohyadi.
Kabag SDM menambahkan bahwa,” kecakapan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga keamanan diri di ruang digital. Para pelajar diminta lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan siber yang terus berkembang dan tidak mudah percaya terhadap informasi maupun tawaran yang datang melalui internet.
“Di dunia digital, kita harus selalu waspada. Jangan mudah memberikan data pribadi, OTP atau kata sandi, dan jangan sembarangan membuka tautan maupun mengunduh aplikasi. Kami berharap edukasi ini membuat pelajar lebih cerdas menggunakan teknologi sekaligus mampu melindungi dirinya dari ancaman kejahatan siber,” Imbuhnya
Melalui program tersebut, Polres Takalar menempatkan literasi AI dan keamanan siber sebagai bagian dari upaya membangun generasi pelajar yang adaptif terhadap teknologi. Bukan sekadar mahir menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga keamanan diri, dan bertanggung jawab atas setiap aktivitasnya di ruang siber, Tutupnya.











