Taeh Bukik Jadi Pusat Latihan Bersama 140 Atlet Paralayang Sumbar

Daerah33 Dilihat

LIMAPULUH KOTA – Kawasan Taeh Bukik, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, tepatnya di lokasi Gunung Bungsu menjadi pusat latihan bersama sekitar 140 atlet paralayang sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar 2026, Minggu (30/8/2026).

Latihan yang digelar Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Sumbar pada 29–30 Agustus 2026 tersebut melibatkan atlet dari sejumlah kabupaten dan kota. Kegiatan itu sekaligus menjadi ajang menyamakan pola latihan, membangun kekompakan, dan memperkuat kesiapan atlet menjelang Porprov yang dijadwalkan dibuka 2 Oktober 2026.

Pelatih Bungsu Aero Sport (BUAS) Club, Dodo Yuda Kusuma (pakai topi putih)

Ketua Harian Federasi Aero Sport (FASI) Sumbar Letnan Kolonel Sus Firdaus mengatakan latihan bersama diperlukan karena atlet berasal dari berbagai daerah dengan pola pembinaan yang berbeda.

“Latihan bersama ini tujuannya menyatukan pola, menyatukan semangat, sekaligus mempererat silaturahim antar-atlet karena mereka berasal dari berbagai kabupaten dan kota,” kata Firdaus.

Atlet dan pegiat yang mengikuti kegiatan tersebut, dari sekitar 140 peserta aktif yang terdaftar di FASI Sumbar tidak seluruhnya akan turun pada Porprov karena sebagian masih pemula dan baru menjalani latihan atau penerbangan perdana.

Ketua Harian FASI Sumbar, Letnan Kolonel Sus Firdaus

Menurut Firdaus, olahraga dirgantara memiliki tantangan berbeda dibandingkan cabang olahraga lain karena sangat bergantung pada kondisi cuaca. Selain itu, harga peralatan relatif mahal. Satu set paramotor, misalnya, dapat mencapai sekitar Rp160 juta, sedangkan perangkat paralayang terbaru sekitar Rp86 juta. Setiap atlet juga harus memiliki lisensi sebelum melakukan penerbangan.

Keterbatasan peralatan menjadi salah satu persoalan pembinaan. Sebagian peralatan yang digunakan atlet bahkan telah berusia empat hingga enam tahun. Di sisi lain, Sumatera Barat memiliki potensi pengembangan venue olahraga dirgantara yang besar. FASI mencatat sekitar 29 lokasi yang secara administratif berpotensi dikembangkan untuk paralayang, gantole, dan paramotor.

Firdaus menilai potensi tersebut harus dibarengi pembinaan dan regenerasi. Sejumlah atlet paralayang saat ini masih berstatus pelajar SMP dan SMA. “Regenerasi lebih bagus merekrut sejak usia kelas lima SD sampai kelas dua SMP, masa mereka berkarier lebih panjang,” ujarnya.

Salah satu pusat pembinaan yang berkembang di kawasan tersebut adalah Bungsu Aero Sport (BUAS) Club. Klub yang berdiri sejak 2013 itu telah melahirkan atlet yang berprestasi di tingkat nasional hingga internasional. Pelatih BUAS, Dodo Yuda Kusuma mengatakan sedikitnya empat atlet binaannya telah mencapai level internasional, sementara saat ini terdapat 47 atlet aktif yang berlatih.

BUAS mencatat sejumlah prestasi, antara lain medali emas FAI World Accuracy Championship di Sopot, Bulgaria, pada 2023, juara dunia sekaligus emas Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada 2024, serta emas kejuaraan internasional di Thailand pada 2025. Di tingkat nasional, BUAS meraih emas Porprov Sumbar 2018 dan PON Papua.

Dodo mengatakan pembinaan dilakukan secara disiplin sejak usia dini. Atlet dilatih mulai dari siswa kelas V SD hingga kelas III SMP, dengan target mencapai level nasional setelah sekitar tiga tahun latihan dan level internasional pada tahun keempat. Latihan rutin digelar Kamis hingga Minggu di Gunung Bungsu, sementara saat libur sekolah latihan dapat dilakukan setiap hari.

Namun, Dodo berharap pemerintah daerah meningkatkan perhatian terhadap pembinaan olahraga dirgantara, khususnya Paralayang. Ia meminta dukungan berupa perbaikan akses jalan menuju Gunung Bungsu, peningkatan lapangan pendaratan, serta bantuan penyediaan peralatan terbang.

Pengembangan kawasan tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Nagari Taeh Bukik. Pengulu Nagari Taeh Bukik Hardimus Dt. Penghulu Bosa, mengatakan nagari telah menyediakan lahan untuk kegiatan paralayang melalui skema sewa. Kontrak lahan tersebut akan berakhir pada 2027 dan nagari berencana memperpanjangnya hingga 30 tahun.

“Insyaallah kami dari nagari sudah mempersiapkan untuk memperpanjang. Kalau bisa itu untuk 30 tahun ke depan,” ujar Hardimus.

Menurut Hardimus, pengembangan paralayang dilakukan melalui kolaborasi dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN), Bundo Kanduang, pelatih paralayang, hingga Lanud Padang. Sejumlah anak Nagari Taeh Bukik bahkan telah berprestasi hingga tingkat dunia dan sebagian kemudian bergabung dengan TNI Angkatan Udara.

Nagari Taeh Bukik juga mendorong pengembangan paralayang sebagai bagian dari wisata olahraga. Kawasan latihan direncanakan terintegrasi dengan embung yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata air. Kolaborasi olahraga, pariwisata, dan UMKM diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Hardimus mengatakan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota terkait pengembangan potensi tersebut telah dilakukan. Pada 2021, pihak nagari bahkan mengundang kepala daerah dan Wakil Wali Kota Payakumbuh untuk melihat langsung potensi kawasan Taeh Bukik.

“Harapan saya khususnya kepada Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota untuk selalu mendukung paralayang yang ada di Nagari Taeh Bukik,” katanya.

(Adju)