Hari Kebudayaan Sunda Jadi Momentum Pelestarian Tradisi, GH. Pahrurodji Ajak Masyarakat Jaga Warisan Leluhur

Entertainment30 Dilihat

KOTA BANDUNG, Reformasiaktual.com– Menjaga kelestarian budaya daerah merupakan bagian penting dalam mempertahankan identitas bangsa di tengah perubahan zaman. Semangat tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam peringatan Hari Kebudayaan Sunda yang berlangsung di Gedung Seni Budaya, Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).

Ketua Umum Paguyuban Sunda Galuh Banjaran Cimaung, GH. Pahrurodji Nawawi Yubjapraja, hadir bersama jajaran pengurus dalam kegiatan tersebut. Acara ini juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat beserta jajaran, para inohong budaya Sunda, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya.

Peringatan tersebut menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi antarpelaku budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberadaan seni, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Sunda.

Usai menyaksikan pagelaran seni budaya Sunda, GH. Pahrurodji Nawawi Yubjapraja menyampaikan pandangannya kepada awak media. Ia menekankan bahwa kekayaan seni dan budaya Sunda merupakan bagian dari warisan intelektual bangsa yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat dan perlu dijaga keberlangsungannya.

Menurutnya, kebudayaan Sunda tidak hanya tercermin melalui pertunjukan seni, tetapi juga melalui adat istiadat, bahasa, tata krama, tradisi, serta nilai kebersamaan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Barat.

Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sekaligus kekayaan Tanah Pasundan. Setiap daerah memiliki keunikan dan karakter budaya masing-masing yang patut dihargai, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

GH. Pahrurodji berpandangan bahwa perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan akar budaya sendiri. Sebaliknya, kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan seni budaya Sunda kepada khalayak yang lebih luas.

Berbagai kesenian tradisional, adat istiadat, dan kearifan lokal perlu terus diperkenalkan melalui kegiatan kebudayaan, pendidikan, komunitas, serta ruang publik. Dengan demikian, kebudayaan Sunda tidak hanya dikenal oleh generasi tua, tetapi juga dapat dipahami dan dicintai oleh kalangan anak muda.

Upaya pelestarian tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, tokoh adat, budayawan, komunitas, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat mempunyai peran masing-masing dalam menjaga keberlangsungan tradisi.

Paguyuban budaya, menurut arah pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian budaya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pelestarian kebudayaan adalah keterlibatan generasi muda. Kaum muda diharapkan tidak hanya mengenal budaya Sunda dari cerita atau pertunjukan, tetapi juga memiliki kemauan untuk mempelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat ngamumule budaya Sunda atau merawat dan melestarikan kebudayaan leluhur perlu ditanamkan sejak dini. Langkah tersebut dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui pengenalan bahasa Sunda, tata krama, kesenian tradisional, serta nilai-nilai saling menghormati yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Selain itu, generasi muda dapat mengambil peran dengan mengikuti kegiatan seni, mempelajari alat musik tradisional, mengenal tarian daerah, mendokumentasikan tradisi lokal, hingga memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sunda secara kreatif.

Dengan keterlibatan anak muda, pelestarian budaya diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab para sesepuh atau budayawan, melainkan menjadi gerakan bersama yang terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam kesempatan tersebut, pentingnya membangun kepedulian bersama menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan kebudayaan Sunda. Pelestarian tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan dalam program yang berkelanjutan dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung.

Dukungan terhadap para seniman dan budayawan, penyelenggaraan pagelaran seni, pengenalan tradisi di lingkungan pendidikan, serta pembinaan komunitas budaya merupakan sejumlah langkah yang dapat memperkuat keberlangsungan kebudayaan daerah.

Ia juga berharap peringatan Hari Kebudayaan Sunda dapat menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat agar tidak melupakan warisan leluhur di tengah dinamika kehidupan modern.

Kecintaan terhadap budaya sendiri, apabila disertai tindakan nyata, akan membantu menjaga keberagaman tradisi sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Sunda sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Rangkaian peringatan Hari Kebudayaan Sunda di Gedung Seni Budaya, Jalan Naripan, Kota Bandung, ditutup dengan pagelaran seni budaya Sunda. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama para tokoh, tamu undangan, dan peserta yang hadir.

Pagelaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan kekayaan seni tradisional sekaligus memberikan ruang apresiasi bagi kebudayaan daerah.
Melalui kegiatan ini, semangat pelestarian budaya diharapkan semakin menguat, tidak hanya di kalangan pelaku seni dan komunitas kebudayaan, tetapi juga di tengah masyarakat luas.

Warisan leluhur merupakan identitas yang perlu dirawat bersama. Karena itu, semangat ngamumule budaya Sunda diharapkan terus hidup melalui kepedulian, partisipasi, dan komitmen seluruh generasi agar kekayaan budaya Tanah Pasundan tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. HERI HERMAWAN