reformasiaktual.com//
Senin, 20 April 2026
Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Sawa (HIPPMAWA) menggelar aksi protes Di SMA Negeri 1 Sawa, Kec. Sawa, Kab. Konawe Utara terhadap Adam, sebagai kepala sekolah atas ketidakmampuannya menunjukkan menejerial yang baik dalam lingkungan sekolah sehingga terjadi kegagalan sistemik. Senin, (20 April 2026).
Sekolah seharusnya menjadi kawah candradimuka, tempat di mana disiplin ditempa dan prestasi dirayakan. Namun, apa yang dilihat hari ini di SMA Negeri 1 Sawa? Kita melihat sebuah institusi yang kehilangan arah. Kita melihat kedisiplinan yang kian melandai, dan kepemimpinan yang seolah kehilangan taji untuk membawa kita berlari menuju kemajuan.
Ketua HIPPMAWA, Muh. Aldy Nurul Danansyah menilai SMA Negeri 1 Sawa bukan lagi sebagai wadah sistem pendidikan yang baik untuk peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan. Diantaranya sarana dan prasarana yang tidak layak, proses belajar mengajar yang buruk dan menurunnya kedisiplinan siswa.
Ada sebuah pepatah mengatakan, “Jika nakhoda kehilangan kompas, maka seluruh kapal terancam karam.” SMA Negeri 1 Sawa merasakan kompas itu hilang. Sudah tidak lagi melihat visi yang jelas, tidak merasakan adanya pergerakan menuju kualitas pendidikan yang lebih baik. Yang dilihat hanyalah stagnansi yang dibalut dengan pembiaran.
“Sejak tahun 2023, Adam memimpin di SMA Negeri 1 Sawa, dalam waktu 3 tahun terakhir kami melihat di sekolah bukannya ada progres namun yang ada hanya kemunduran. Gedung belajar dan kantor yang hampir rubuh, kursi dan meja siswa yang sudah usang, proses belajar dan mengajar yang tidak efektif, kurangnya dukungan kegiatan intra dan ekstrakurikuler dari pimpinan, kedisiplinan siswa yang tidak lagi diperhatikan. Sehingga banyak alumni siswa SMA Negeri 1 Sawa yang tidak mampu lagi bersaing dijenjang perguruan tinggi negeri akibat mundurnya indeks kumulatif siswa. Tentunya faktor ini disebabkan bobroknya pucuk pimpinan yang tidak mampu menahkodai SMA Negeri 1 Sawa.” Ujar Aldy, sapaannya.
Tambanhya “ Kami juga menduga ada anggaran dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang tidak jelas peruntukkannya, mengapa demikian? Karena kami melihat di SMA Negeri 1 Sawa tidak ada jejak tangan dari kepala sekolah untuk meningkatkan fasilitas belajar mengajar di lingkungan sekolah ini.”
Massa aksi menuntut perubahan! Bukan besok, bukan lusa, tapi sekarang! Mereka tidak meminta kemewahan, mereka meminta ketegasan. Mereka tidak meminta janji, mereka meminta bukti nyata bahwa sekolah ini masih memiliki masa depan.
“Kepada Bapak Kepala Sekolah yang kami hormati, dengarlah suara kami. Kepemimpinan bukan tentang kursi yang nyaman, tapi tentang langkah kaki yang membawa peserta didik menuju gerbang kesuksesan. Jika Anda tidak lagi mampu memegang kemudi, maka biarkan kejujuran yang bicara! Mundurlah wahai Para pemimpin yang tidak mampu memberikan kemajuan pada pendidikan di kecamatan sawa.” Muh. Alfian dalam orasinya.
Massa aksi menuntut Bapak Kepala Sekolah untuk secara ksatria mundur dari jabatannya, atau mereka akan mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk segera melakukan pergantian kepemimpinan demi penyegaran dan perbaikan di SMA Negeri 1 Sawa.
“Mengembalikan Kompas yang Hilang di SMA Negeri 1 Sawa”







