Dari Kawalu Menebar Cahaya, Kiprah KH. Agan Farid dan Ponpes Riyadlul Ulum Terus Membangun Generasi Berakhlak

PENDIDIKAN9 Dilihat

ReformasiAktual.com//TASIKMALAYA-
09 Mei 2026,
Di sudut tenang Kecamatan Kawalu, di antara denyut kehidupan masyarakat yang terus bergerak mengikuti zaman, berdiri sebuah lembaga pendidikan Islam yang tetap teguh menjaga akar tradisi sekaligus menanam harapan bagi masa depan generasi muda. Pondok Pesantren Riyadlul Ulum yang beralamat di Jalan Muncangsari No. 35, Kelurahan Gunung Gede, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, kini menjadi salah satu pesantren yang dikenal luas karena konsistensinya dalam membangun pendidikan berbasis akhlak, keilmuan, dan kedisiplinan.

Di bawah kepemimpinan KH. Agan Farid atau yang akrab disapa A’ Agan, pesantren tersebut tumbuh bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan moral generasi muda.

Sosok A’ Agan dikenal hangat di tengah masyarakat, sederhana dalam sikap, namun kuat dalam prinsip dakwah dan pendidikan.
Setiap hari, suasana pesantren dipenuhi lantunan ayat suci dan aktivitas para santri yang menimba ilmu dengan penuh khidmat. Tradisi mengaji kitab kuning, pembinaan akhlak, hingga pendidikan kemandirian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di lingkungan pesantren.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Riyadlul Ulum memilih tetap berdiri dengan identitas pesantren yang kuat: mendidik dengan keteladanan dan membimbing dengan hati.
Tak hanya fokus membina santri di lingkungan pesantren, KH. Agan Farid juga dikenal aktif melakukan safari dakwah ke berbagai pelosok wilayah Tasikmalaya.

Kehadirannya dalam berbagai majelis taklim dan kegiatan keagamaan kerap menjadi magnet bagi masyarakat yang haus akan siraman rohani. Bahkan, undangan ceramah dari luar daerah pun disebut rutin datang, menandakan luasnya pengaruh dakwah yang dibangun secara konsisten selama ini.

Yang membuat sosok A’ Agan begitu dekat dengan masyarakat adalah gaya ceramahnya yang dinilai tidak kaku. Dalam setiap tausiyah, ia dikenal mampu menyampaikan pesan-pesan agama dengan bahasa sederhana, hangat, dan sesekali diselingi humor yang mengundang tawa jamaah. Namun di balik candaan tersebut, tersimpan pesan moral yang tajam dan mudah diterima berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua.

“Cara beliau berceramah itu ringan, tidak membosankan, tapi isi pesannya sangat mengena,” ujar salah seorang jamaah yang rutin mengikuti pengajian A’ Agan.
Bagi banyak wali santri, keberadaan pesantren bukan sekadar tempat pendidikan, melainkan tempat menitipkan harapan.

Hal itu diungkapkan A’ Udhey, salah seorang wali santri yang mengaku merasakan langsung perubahan positif pada putranya, Rangga, setelah mondok di Riyadlul Ulum.

“Alhamdulillah anak saya betah di pesantren ini. Setelah lulus dari SMP dan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA nanti, anak saya berencana akan terus mengaji di pondok ini,” ujarnya penuh rasa syukur.

Tak hanya itu, A’ Udhey juga berharap putranya kelak dapat tumbuh menjadi sosok ustadz yang mampu menebarkan ilmu agama kepada masyarakat luas.

Ia ingin Rangga terus mendapatkan bimbingan agar semakin mahir mengaji dan memiliki kemampuan berdakwah seperti A’ Agan.

“Saya berharap anak saya bisa menjadi ustadz dan membawa ilmu yang didapat dari pesantren ini untuk masyarakat. Semoga terus dibimbing agar lebih pintar mengaji dan suatu saat bisa ceramah seperti A’ Agan,” katanya penuh harap.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada KH. Agan Farid dan seluruh pengurus pesantren atas bimbingan yang diberikan kepada anaknya selama menempuh pendidikan di lingkungan pesantren.

“Saya sangat berterima kasih kepada A’ Agan dan seluruh pengurus pesantren atas semua bimbingan kepada anak saya.

Saya melihat sendiri perubahan sikap dan kedisiplinannya. Semoga semakin banyak orang tua yang menitipkan anak-anaknya di pesantren ini untuk mengaji dan belajar agama,” tuturnya.

Pernyataan itu menggambarkan bagaimana pesantren masih menjadi benteng moral yang dipercaya masyarakat di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.

Ketika banyak orang tua khawatir terhadap pengaruh lingkungan dan perkembangan zaman, pesantren hadir sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk adab dan tanggung jawab.

Keberadaan Pondok Pesantren Riyadlul Ulum pun dinilai membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat sekitar. Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi muda, pesantren juga menjadi pusat silaturahmi dan penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan warga.

Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, Riyadlul Ulum tetap menjaga keyakinan bahwa pendidikan terbaik bukan hanya soal kecerdasan intelektual, melainkan juga tentang membangun hati, akhlak, dan masa depan generasi.

Dari Kawalu, cahaya dakwah itu terus menyala pelan namun pasti, menjangkau lebih banyak hati dan melahirkan harapan baru bagi masyarakat.

(Dharma Eka Yudiawan)