Perkuat Infratruktur Pengendali Banjir, Pemkot Bangun Dua Rumah Pompa dan 3,9 Kilometer Drainase Baru

Berita Kota57 Dilihat

Reformasiaktual.com//Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung terus memperkuat infrastruktur pengendali banjir sebagai upaya mengurangi risiko genangan saat musim hujan.

Sepanjang 2026, sejumlah pekerjaan dilakukan mulai dari pembangunan rumah pompa, kolam retensi, hingga pembangunan drainase baru di sejumlah titik kota.

Kepala DSDABM Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi mengatakan, pembangunan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengendalikan limpasan air hujan.

Persiapan menghadapi musim hujan tidak hanya dilakukan ketika hujan mulai turun, tetapi melalui pekerjaan yang berlangsung sepanjang tahun.

“Persiapan menghadapi musim hujan itu bukan berarti sekarang baru kita lakukan. Selama musim kemarau, dari awal tahun, pekerjaan kita memang diarahkan untuk menormalisasi drainase, membangun kolam retensi, membuat sumur imbuhan dalam, sumur biopori, dan berbagai upaya lainnya,” ujar Rizki di Balai Kota Bandung, Senin, 12 Oktober 2026.

Salah satu pekerjaan yang dilakukan pada 2026 adalah pembangunan dua rumah pompa di Cipamokolan dan Rancabolang. Masing-masing lokasi dilengkapi dua mesin pompa dengan kapasitas 150 liter per detik per pompa.

Dengan kapasitas tersebut, setiap rumah pompa memiliki kemampuan pemompaan hingga 300 liter per detik apabila kedua mesin beroperasi bersamaan. Keberadaan fasilitas ini diharapkan membantu mempercepat pengurangan genangan, terutama ketika volume air tidak dapat dialirkan secara optimal melalui saluran secara gravitasi.

“Rumah pompa kita bangun karena volume air yang berlimpah itu tidak bisa dialirkan secara alami. Jadi, air dibantu dengan mesin pompa untuk dialirkan ke drainase atau sungai sehingga genangan bisa lebih cepat surut,” jelasnya.

Selain rumah pompa, DSDABM juga membangun drainase baru sepanjang 3,9 kilometer selama 2026. Pembangunan tersebut di antaranya dilakukan di Jalan Ibrahim Adjie dan kawasan Antapani untuk mendukung kelancaran aliran air melalui jaringan drainase perkotaan.

Pemkot Bandung juga membangun dua kolam retensi baru pada tahun ini, yakni di kawasan Sanggar Hurip dan Ciporeat. Infrastruktur tersebut berfungsi menampung sementara limpasan air hujan sehingga alirannya dapat dikendalikan dan tidak langsung membebani saluran drainase.

Rizki menjelaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Kondisi geografis Kota Bandung yang menyerupai cekungan, ditambah kepadatan penduduk di sejumlah kawasan, menjadi tantangan tersendiri dalam mengelola aliran air.

“Yang paling rawan itu kawasan padat. Kota Bandung secara geografis berbentuk seperti mangkuk, sehingga air dari kawasan yang lebih tinggi akan mengalir ke sini. Karena itu, bagaimana kita mengalirkan, meresapkan, atau menahan limpasan air menjadi hal yang penting,” tuturnya.

Upaya pengendalian limpasan juga dilakukan melalui pembangunan sumur imbuhan dalam. Hingga Oktober 2026, jumlah sumur imbuhan dalam yang telah dibangun mencapai sekitar 1.300 unit di berbagai lokasi di Kota Bandung. Sumur biopori dan penanaman pohon di lahan kritis turut menjadi bagian dari upaya meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.

Rizki menyebut, seluruh langkah tersebut perlu didukung kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran air. Menurutnya, sampah rumah tangga masih menjadi salah satu persoalan yang ditemukan dalam kegiatan normalisasi drainase dan sungai.

“Kita sama-sama menjaga Kota Bandung. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai maupun drainase, memilah sampah dengan baik, serta menyiapkan tempat sampah tersendiri,” katanya. (rob)**

Kepala Diskominfo Kota Bandung

Henryco Arie Sapiie